Perbedaan Buy Back dan Token Burn - Blog Rizki M Farhan
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perbedaan Buy Back dan Token Burn

 Perbedaan Buy Back dan Token Burn

Perbedaan Buy Back dan Token Burn

Di pasar saham, buy back merujuk pada situasi di mana perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri dari pasar. Tujuannya bisa bermacam-macam, seperti mengurangi jumlah saham yang beredar, menstabilkan harga saham, atau menunjukkan kepercayaan diri perusahaan terhadap prospek masa depannya.

Di dunia "crypto", konsep serupa disebut token burn atau pembakaran token. Ini adalah proses di mana proyek crypto secara permanen menghapus sejumlah token dari sirkulasi dengan mengirimkannya ke alamat wallet yang tidak dapat diakses. Tujuannya adalah mengurangi pasokan token yang beredar, yang secara teoritis dapat meningkatkan nilai token yang tersisa karena kelangkaannya.

Meskipun buy back (di saham) dan token burn (di crypto) sama-sama bertujuan mengurangi pasokan aset yang beredar, keduanya memiliki mekanisme dan implikasi yang berbeda:  

| **Aspek** | **Buy Back (Saham)** | **Token Burn (Crypto)** |

|----------------|---------------------|----------------------|

| **Definisi** | Perusahaan membeli kembali sahamnya dari pasar. | Proyek crypto menghancurkan/menghapus token secara permanen. |

| **Tujuan** | - Meningkatkan nilai saham. <br> - Menunjukkan kepercayaan diri perusahaan. <br> - Mengurangi jumlah saham beredar. | - Meningkatkan kelangkaan token. <br> - Meningkatkan harga token. <br> - Mengontrol inflasi pasokan. |

| **Mekanisme** | Saham yang dibeli bisa disimpan sebagai treasury stock (bisa dijual kembali) atau dihapus. | Token dikirim ke alamat "burn" yang tidak bisa diakses lagi (dihancurkan selamanya). |

| **Efek terhadap Pasokan** | Sementara (jika saham disimpan, bisa diedarkan lagi). | Permanen (token benar-benar hilang dari sirkulasi). |

| **Insentif bagi Pemegang** | Pemegang saham dapat untung dari kenaikan harga atau dividen. | Pemegang token dapat untung dari kenaikan harga karena pasokan berkurang. |

| **Contoh** | Perusahaan seperti Apple melakukan buy back saham. | BNB (Binance) dan Shiba Inu rutin melakukan token burn. |

Kesimpulan

  • Buy back bersifat reversible (saham bisa dikeluarkan lagi), sedangkan "token burn" bersifat "permanen".
  • Buy back lebih terkait dengan kebijakan perusahaan, sementara "token burn" sering diprogram dalam smart contract crypto.  
  • Keduanya bertujuan meningkatkan nilai aset, tetapi dengan pendekatan berbeda.  

Jadi, kalau di saham disebut "buy back", di crypto disebut "token burn". Meskipun mirip dalam tujuan, cara kerjanya berbeda karena perbedaan sifat saham (tradisional) dan crypto (blockchain-based).

Rizki M Farhan
Rizki M Farhan Saya adalah seorang penulis konten artikel untuk belajar yang membahas Teknologi Layanan Pendidikan Internet.