Perbedaan Buy Back dan Token Burn
Perbedaan Buy Back dan Token Burn
Meskipun buy back (di saham) dan token burn (di crypto) sama-sama bertujuan mengurangi pasokan aset yang beredar, keduanya memiliki mekanisme dan implikasi yang berbeda:
| **Aspek** | **Buy Back (Saham)** | **Token Burn (Crypto)** |
|----------------|---------------------|----------------------|
| **Definisi** | Perusahaan membeli kembali sahamnya dari pasar. | Proyek crypto menghancurkan/menghapus token secara permanen. |
| **Tujuan** | - Meningkatkan nilai saham. <br> - Menunjukkan kepercayaan diri perusahaan. <br> - Mengurangi jumlah saham beredar. | - Meningkatkan kelangkaan token. <br> - Meningkatkan harga token. <br> - Mengontrol inflasi pasokan. |
| **Mekanisme** | Saham yang dibeli bisa disimpan sebagai treasury stock (bisa dijual kembali) atau dihapus. | Token dikirim ke alamat "burn" yang tidak bisa diakses lagi (dihancurkan selamanya). |
| **Efek terhadap Pasokan** | Sementara (jika saham disimpan, bisa diedarkan lagi). | Permanen (token benar-benar hilang dari sirkulasi). |
| **Insentif bagi Pemegang** | Pemegang saham dapat untung dari kenaikan harga atau dividen. | Pemegang token dapat untung dari kenaikan harga karena pasokan berkurang. |
| **Contoh** | Perusahaan seperti Apple melakukan buy back saham. | BNB (Binance) dan Shiba Inu rutin melakukan token burn. |
Kesimpulan
- Buy back bersifat reversible (saham bisa dikeluarkan lagi), sedangkan "token burn" bersifat "permanen".
- Buy back lebih terkait dengan kebijakan perusahaan, sementara "token burn" sering diprogram dalam smart contract crypto.
- Keduanya bertujuan meningkatkan nilai aset, tetapi dengan pendekatan berbeda.
Jadi, kalau di saham disebut "buy back", di crypto disebut "token burn". Meskipun mirip dalam tujuan, cara kerjanya berbeda karena perbedaan sifat saham (tradisional) dan crypto (blockchain-based).